Wednesday, February 28, 2018

MENGENAL TITIK KOORDINAT DAN GPS



Mengenal Titik Koordinat dan GPS –  dalam tulisan kali ini saya akan mengenalkan kepada kawan - kawan tentang titik koordinat dan GPS, mengapa pembahasannya di gabung karena kedua tidak bisa di pisahkan, mereka saling melengkapi satu sama lain 😀, ayo yang jomblo masa kalah sama titik koordinat dan GPS hahahah 😄😄😄, oke langsung saja kita baca tulisannya di bawah ini 👇👇

A. Metode Penentuan Posisi
Metoda  penentuan  posisi  adalah  cara  untuk  mendapatkan  informasi  koordinat  suatu  objek  (contoh koordinat titik batas, koordinat batas persil tanah dan lain-lain) di lapangan. Metoda penentuan posisi dapat dibedakan dalam dua bagian, yaitu metoda penentuan posisi terestris dan metoda penentuan posisi extra- terestris (satelit).
Pada    metoda    terestris    penentuan    posisi    titik    dilakukan    dengan    melakukan    pengamatan terhadap target  atau  objek  yang  terletak  di  permukaan bumi.  Beberapa contoh  metoda  yang  umum digunakan adalah:
Perbandingan dari daerah yang sama untuk proyeksi yang berbeda
a.  Metode poligon.
b.  Metode pengikatan ke muka.
c.  Metode pengikatan ke belakang dan lain-lain.
Pada metode ekstra terestris penentuan posisi dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap benda atau objek di angkasa seperti bintang, bulan, quasar dan satelit buatan manusia, beberapa contoh penentuan posisi extra terestris adalah sebagai berikut:
a.  Astronomi geodesi.
b.  Transit Dopler.
c.  Global Positioning System (GPS) dan lain-lain.



B. Titik Koordinat
Posisi suatu titik biasanya dinyatakan dengan koordinat (dua-dimensi atau tiga-dimensi) yang mengacu pada   suatu   sistem   koordinat  tertentu.   Sistem   koordinat  itu   sendiri   dapat   didefinisikan dengan menspesfikasi tiga parameter berikut, yaitu:

a. Lokasi Titik Nol dari Sistem Koordinat
Posisi suatu titik di permukaan bumi umumnya ditetapkan dalam/terhadap suatu sistem koordinat terestris. Titik nol dari sistem koordinat terestris ini dapat berlokasi di titik pusat massa bumi (sistem  koordinat geosentrik), maupun di salah satu titik di permukaan bumi (sistem koordinat toposentrik).
b. Orientasi dari Sumbu-sumbu Koordinat
Posisi tiga-dimensi (3D) suatu titik di permukaan bumi umumnya dinyatakan dalam suatu sistem koordinat geosentrik.  Tergantung  dari  parameter-parameter pendefinisi  koordinat  yang  digunakan, dikenal  dua sistem koordinat yang umum digunakan, yaitu sistem koordinat Kartesian (X,Y,Z)  dan  sistem  koordinat Geodetik  (L,B,h),  yang  keduanya diilustrasikan pada  gambar berikut:



Gambar 1 sistem koordinat sistem koordinat Kartesian dan koordinat Geodetik

Koordinat 3D suatu titik juga bisa dinyatakan dalam suatu sistem koordinat toposentrik, yaitu umumnya dalam bentuk sistem koordinat Kartesian (N,E,U) yang diilustrasikan pada gambar berikut.


Gambar 2 Sistem koordinat 3D sistem koordinat Kartesian

Parameter - parameter (kartesian, curvilinear) yang digunakan untuk mendefiniskan posisi suatu titik dalam sistem koordinat tersebut. Posisi titik juga dapat dinyatakan dalam 2D, baik dalam (L,B), ataupun dalam suatu sistem  proyeksi tertentu (x,y) seperti Polyeder, Traverse Mercator (TM) dan Universal Traverse Mercator (UTM).


C. Global Positioning System (GPS)
GPS  adalah  sistem  navigasi  dan  penentuan  posisi  menggunakan  satelit  yang  dikembangkan  dan dikelola  oleh  Departemen  Pertahanan  Amerika  Serikat.  GPS  dapat  memberikan  informasi  tentang posisi, kecepatan dan waktu di mana saja di muka bumi setiap saat, dengan ketelitian penentuan posisi dalam fraksi milimeter sampai dengan meter. Nama formalnya adalah NAVSTAR GPS (Navigation Satellite Timing and Ranging Global Positioning System). GPS didesain untuk memberikan informasi posisi, kecepatan dan waktu. Pada dasarnya GPS terdiri atas 3 segmen utama, yaitu:


1. Segmen ngkasa (space segment)

Terdiri dari 24 satelit yang terbagi dalam 6 orbit dengan inklinasi 55° dan ketinggian ± 20.200 Km dari permukaan bumi dan periode orbit 11 jam 58 menit.


Gambar 3 Konstelasi Satelit di Luar Angkasa


Setiap satelit GPS secara kontinyu memancarkan sinyal-sinyal gelombang pada 2 frekuensi L-band (dinamakan L1 dan L2). Dengan mengamati sinyal-sinyal dari satelit dalam jumlah dan waktu yang cukup, kemudian data  yang diterima tersebut dapat dihitung untuk  mendapatkan informasi posisi, kecepatan maupun waktu.

2. Segmen sistem Kontrol (control system segment)
Adalah stasiun-stasiun pemonitor dan pengontrol satelit yang berfungsi untuk memonitor dan mengontrol kelaikgunaan satelit-satelit GPS. Stasiun kontrol ini tersebar di seluruh dunia, yaitu di pulau Ascension, Diego Garcia, Kwajalein, Hawai dan Colorado Springs. Di samping memonitor  dan   mengontrol  fungsi seluruh satelit, juga  berfungsi menentukan orbit  dari seluruh satelit GPS. Mempunyai tanggung jawab untuk memantau satelit GPS supaya satelit GPS dapat tetap berfungsi dengan tepat. Misalnya untuk sinkronisasi waktu, prediksi orbit dan monitoring “kesehatan” satelit.

Gambar 4 orbit Satelite GPS

Segmen pemakai merupakan pengguna, baik di darat, laut maupun udara, yang menggunakan receiver GPS untuk mendapatkan sinyal GPS sehingga dapat menghitung posisi, kecepatan, waktu dan parameter lainnya. peralatan (Receiver GPS) yang dipakai pengguna satelit GPS, baik di darat, laut, udara maupun di angkasa. Alat penerima sinyal GPS (Receiver GPS) diperlukan untuk menerima dan memproses sinyal-sinyal dari satelit GPS untuk digunakan dalam penentuan posisi,   kecepatan,  maupun   waktu.   Secara   umum Receiver GPS  dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
·      Receiver militer
·      Receiver tipe navigasi
·      Receiver tipe geodetic

D. Prinsip dan Metode Penentuan Posisi Dengan GPS


Gambar 5 Space Segment

Pengukuran jarak secara simultan ke beberapa satelit yang telah diketahui koordinatnya (metode reseksi dengan jarak).
Pada pengamatan posisi suatu titik dengan gps pada suatu epok, ada 4 parameter yang harus ditentukan yaitu :
·      3 parameter koordinat ( X, Y, Z atau L, B, h )
·    1 parameter kesalahan waktu (ketidak sinkronan antara jam (osilator) di satelit dengan jam di reciever gps).
Untuk itu diperlukan minimal pengamatan jarak ke 4 (empat) satelit.
Prinsip pengukuran jarak : Receiver GPS membandingkan kode yang diterima dari satelit dengan replika kode yang diformulasikan di dalam receiver. Waktu yang diperlukan untuk ‘mengimpitkan’ kedua kode tersebut adalah waktu yang diperlukan oleh kode tersebut untuk menempuh jarak dari satelit ke pengamat.


Jarak = Kecepatan Cahaya x dt

Karena jam receiver tidak sinkron dengan jam satelit maka jarak di atas masih terkontaminasi oleh kesalahan waktu, sehingga jarak tersebut dinamakan pseudorange. Presisi jarak sekitar 1% dari code width (panjang gelombang kode).Untuk kode-P = 0.3 m dan untuk kode-C/A = 3m.


Jara fase


Jarak ukuran dari pengamatan ke satelit pada epok t, dihitung berdasarkan rumus : Jarak = panjang gelombang. (teta + N ).
Untuk merubah data fase menjadi data jarak, cycle ambiguity N harus ditentukan terlebih dahulu nilainya.
Kalau nilai bilangan bulat N bisa ditentukan secara benar :
·      jarak fase akan menjadi ukuran jarak yang sangat teliti (orde mm).
·      dapat digunakan untuk penentuan posisi secara teliti (orde mm – cm).

Pada  dasarnya  konsep  dasar  penentuan  posisi  dengan  satelit  GPS  adalah  pengikatan  ke belakang dengan jarak, yaitu mengukur jarak ke beberapa satelit GPS yang koordinatnya telah diketahui. Perhatikan gambar berikut :

Gambar 6 Metode Penentuan Posisi GPS

Prinsip Dasar Penentuan Posisi dengan GPS (sumber: Abidin H.Z) Penentuan posisi dengan GPS dapat dikelompokkan atas beberapa metoda diantaranya :
·      Metoda absolut,
·      Metoda relatif (differensial).

·      Metode RTK (Real Time Kinematic)

1)  Metoda Absolut
Penentuan posisi dengan GPS metode absolut adalah penentuan posisi yang hanya menggunakan 1 alat receiver GPS. Karakteristik penentuan posisi dengan cara absolut ini adalah sebagai berikut :
·      Posisi ditentukan dalam sistem W GS 84 (terhadap pusat bumi).
·      Prinsip   penentuan   posisi   adalah   perpotongan   ke   belakang   dengan   jarak   ke beberapa satelit sekaligus.
·      Hanya memerlukan satu receiver GPS.
·      Titik yang ditentukan posisinya bisa diam (statik) atau bergerak (kinematik).
·      Ketelitian posisi berkisar antara 5 sampai dengan 10 meter.
Aplikasi    utama    untuk    keperluan    navigasi,    metoda    penentuan    posisi    absolut    ini umumnya menggunakan  data   pseudorange  dan   metoda   ini   tidak   dimaksudkan   untuk aplikasi-aplikasi yang menuntut ketelitian posisi yang tinggi.

Gambar 7 Metode Absolute
2)  Metoda Relatif (Differensial)
Yang dimaksud dengan penentuan posisi relatif atau metoda differensial adalah menentukan posisi suatu titik relatif terhadap titik lain yang telah diketahui koordinatnya, pengukuran dilakukan secara bersamaan pada dua  titik  dalam  selang  waktu tertentu. Selanjutnya dari data hasil pengamatan diproses/dihitung akan didapat perbedaan koordinat kartesian 3 dimensi (dx, dy, dz) atau disebut juga dengan baseline antar titik yang diukur.
Karakteristik umum dari metoda penentuan posisi ini adalah sebagai berikut :
·   Memerlukan  minimal  2  receiver,  satu  ditempatkan  pada  titik  yang  telah  diketahui koordinatnya.
·      Posisi titik ditentukan relatif terhadap titik yang diketahui.
·   Konsep dasar adalah differencing process dapat mengeliminir atau mereduksi pengaruh dari beberapa kesalahan dan bias.
·      Bisa menggunakan data pseudorange atau fase.
·      Ketelitian posisi yang diperoleh bervariasi dari tingkat mm sampai dengan dm.
·    Aplikasi utama : survei pemetaan, survei penegasan batas, survei geodesi dan navigasi dengan ketelitian tinggi.

Gambar 8 Metode Relatif
3) Merode Real Time Kinematic (RTK)
·    Sistem RTK (Real Time Kinematic) umum digunakan untuk sistem penentuan posisi real time secara diferensial menggunakan data fase.
·      umumnya digunakan untuk menentukan posisi objek yang  bergerak maupun diam.
·    Agar real time, maka monitor station harus mengirimkan data fase ke pengguna secara real time menggunakan sistem komunikasi tertentu.
·      Koreksi diferensial :  Koreksi pseudorange (RTCM SC-104) dan Koreksi koordinat
·      Ketelitian tipikal posisi 1 – 5 cm
·  Aplikasi utama : Staking out, survey kadaster, servey pertambangan, navigasi berketelitian tinggi.

Gambar 8 Metode RTK


E. Aplikasi-Aplikasi GPS
Beberapa aplikasi dari GPS diantaranya adalah sebagai berikut :
1.    Survei dan pemetaan.
2.    Survei penegasan batas wilayah administrasi, pertambangan dan lain-lain.
3.    Geodesi, Geodinamika dan Deformasi.
4.    Navigasi dan transportasi.
5.    Telekomunikasi.
6.    Studi troposfir dan ionosfir.
7.    Pendaftaran tanah, Pertanian.
8.    Photogrametri & Remote Sensing.
9.    GIS (Geographic Information System).
10.Studi kelautan (arus, gelombang, pasang surut).
11.Aplikasi olahraga dan rekreasi.

Terimakasih buat kawan-kawan yang sudah mampir dan membaca tulisan ini, semoga tulisan ini bermanfaat untuk kalian. tidak lupa saa selalu mengingatkan kepada kawan - kawan untuk menyempatkan memberikan komentar kritik dan sarannya terkait dengan tulisan yang saya buat ini, maklum saya juga masih dalam proses belajar menulis heee.

Sumber Tulisan :
https://mupego.wordpress.com/2015/08/20/prinsip-dan-metoda-penentuan-posisi-dengan-gps/
http://geograph88.blogspot.co.id/2015/09/metode-penentuan-posisi-gps.html
https://belajargeomatika.wordpress.com/2011/12/23/penentuan-posisi-dengan-gps/

Jangan Lupa Baca Juga Tulisan Sebelumnya :

Wednesday, February 21, 2018

PETA BERBASIS GIS

Assalamualaikum Wr. Wb.
PetaBerbasis GIS – Ternyata peta berbasis GIS. Peta sudah terkunci dengan posisi sebenarnya atau sebut saja peta yang sudah terkoordinat. seperti kita ketahui di pembahasan sebelumnya saya membahas mengenai Sumber Data Spasial. Setelah kita mendapat peta dari berbagai macam sumber, peta tersebut tidak dapat langsung kita gunakan. Terdapat beberapa tahap lagi agar peta tersebut dapat digunakan oleh kita.
Apa saja yang haurs kita lengkapi dalam proses mengolah peta dari sumber yang kita dapat. Oke baik langsung saja dalam tulisan saya kali ini saya akan membahas mengenai proyeksi peta dan sistem koordinat pada peta.

Jangan lupa  kawan siapkan secangkir kopi dihadapan kawan – kawan semuanya agar bacaan ini semakin merasap (sepertinya halnya kopi yg selalu meresap ke dalam tubuh) heee 😊

A. Peta
Peta adalah gambaran permukaan bumi pada bidang datar dengan skala tertentu melalui suatu sistem proyeksi. Peta bisa disajikan dalam berbagai cara yang berbeda, mulai dari peta konvensional yang tercetak hingga peta digital yang tampil di layar komputer. Istilah peta berasal dari bahasa Yunani mappa yang berarti taplak atau kain penutup meja. Namun secara umum pengertian peta adalah lembaran seluruh atau sebagian permukaan bumi pada bidang datar yang diperkecil dengan menggunakan skala tertentu. Sebuah peta adalah representasi dua dimensi dari suatu ruang tiga dimensi. Ilmu yang mempelajari pembuatan peta disebut kartografi. Banyak peta mempunyai skala, yang menentukan seberapa besar objek pada peta dalam keadaan yang sebenarnya. Kumpulan dari beberapa peta disebut atlas.
Peta adalah gambaran sebagian atau seluruh muka bumi baik yang terletak di atas maupun di bawah permukaan dan disajikan pada bidang datar pada skala dan proyeksi tertentu (secara matematis). Karena dibatasi oleh skala dan proyeksi maka peta tidak akan pernah selengkap dan sedetail aslinya (bumi), karena itu diperlukan penyederhanaan dan pemilihan unsur yang akan ditampilkan pada peta.

Contoh Peta

1. Syarat-Syarat Peta
Sedikitnya ada 3 syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah peta agar ia dapat berfungsi dengan baik. Ketiga syarat syarat peta tersebut dikenal dengan istilah equivalent, equidistant, dan conform.

a. Equivalent
Syarat pertama yang harus dipenuhi sebuah peta adalah ia harus bersifat equivalent. Apakah yang dimaksud dengan equivalent itu? Equivalent berasal dari kata “Equi atau Equals” yang berarti sama, dan “Valent” yang berarti luas. Dengan demikian equivalent dapat diartikan sebagai syarat kesamaan luas.
Sebuah peta dikatakan memenuhi syarat equivalent apabila luas daerah yang digambar pada peta memiliki kesamaan perbandingan dengan luas daerah yang sebenarnya. Perbandingan luas diwujudkan dalam bentuk skala. Artinya, luas daerah yang sebenarnya yang dikalikan dengan skala peta akan menghasilkan luas daerah pada peta secara tepat dan akurat. Sehingga perbandingan luas pada peta dan luas daerah sebenarnya dapat berlaku sama pada setiap daerah yang digambarkan pada peta.

b. Equidistant
Selain harus memenuh syarat equivalent, sebuah peta juga harus bersifat equidistant. Apakah yang dimaksud dengan equidistant itu? Equidistant berasal dari kata “Equi atau Equals” yang berarti sama, dan “Distant atau Distance” yang berarti jarak. Dengan demikian, equidistant dapat diartikan sebagai syarat kesamaan jarak.
Sebuah peta dikatakan memenuhi syarat equivalent apabila jarak antara 2 daerah yang digambar pada peta memiliki kesamaan perbandingan dengan jarak sebenarnya pada 2 daerah tersebut. Sama seperti syarat equivalent, pada syarat equidistant perbandingan jarak juga diwujudkan dalam bentuk skala.
Sebagai contoh, jika jarak antara kota Jakarta – Bandung sebesar 120 km dan jarak antara kota Jakarta dan Semarang sebesar 200 km, maka pada peta berskala 1:10.000.000, jarak antara kota Jakarta – Bandung pada peta sebesar 1,2 cm dan jarak antara kota Jakarta – Semarang harus sebesar 2 cm.

c. Conform
Kedua syarat syarat peta sebelumnya tidak akan mungkin tercapai dan dimiliki, bila sebuah peta tidak menggambarkan sebuah wilayah dalam bentuk yang sama dengan keadaan aslinya. Kesamaan bentuk ini penting dimiliki sebuah peta agar ia dapat menjadi rujukan bagi setiap orang yang hendak mengetahui bentuk real dari sebuah wilayah. Tanpa kesamaan bentuk, peta tidak akan mampu memberikan perbandingan jarak dan luas secara akurat. Syarat kesamaan bentuk inilah yang kemudian dikenal dengan istilah conform.
Nah, demikianlah 3 syarat syarat peta lengkap dengan pengertian dan penjelasannya. Agar dapat berfungsi dengan baik, semua syarat-syarat tersebut harus dipenuhi oleh sebuah peta. Dengan demikian, seorang kartograf atau orang yang menggambar peta harus memastikan bahwa peta yang dibuatnya mampu memberikan proyeksi yang seakurat mungkin, meskipun dalam prakteknya proyeksi tidak akan mampu memenuhi ketiga syarat tersebut secara lengkap (lebih jelasnya, baca : Jenis Jenis Proyeksi Peta).


B. Proyeksi Peta
Pada dasarnya bentuk bumi tidak datar tapi mendekati bulat maka untuk menggambarkan sebagian muka bumi untuk kepentingan pembuatan peta, perlu dilakukan langkah-langkah agar bentuk yang mendekati bulat tersebut dapat didatarkan dan distorsinya dapat terkontrol, untuk itu dilakukan proyeksi ke bidang datar.

1. Menurut Bidang Proyeksi
Proyeksi peta menurut jenis bidang proyeksi dibedakan menjadi :

a. Proyeksi Bidang Datar (Azimuthal/Zenithal)
Proyeksi Zenithal (Azimuthal), adalah proyeksi yang menggunakan bidang datar sebagai bidang proyeksinya. Proyeksi ini menyinggung bola bumi dan berpusat pada satu titik. Proyeksi ini menggambarkan daerah kutub dengan menempatkan titik kutub pada titik pusat proyeksi. Proyeksi Azimuthal dibedakan 3 macam, yaitu:
·      Proyeksi Azimut Normal yaitu bidang proyeksinya menyinggung kutub.
·      Proyeksi Azimut Transversal yaitu bidang proyeksinya tegak lurus dengan ekuator.
·    Proyeksi Azimut Oblique yaitu bidang proyeksinya menyinggung salah satu tempat antara kutub dan ekuator.

Proyeksi Peta Bidang Datar (Zenithal)

b. Proyeksi Kerucut
Proyeksi Kerucut yaitu pemindahan garis-garis meridian dan paralel dari suatu globe ke sebuah kerucut. Untuk proyeksi normalnya cocok untuk memproyeksikan daerah lintang tengah (miring). Proyeksi ini memiliki paralel melingkar dengan meridian berbentuk jari-jari. Paralel berwujud garis lingkaran sedangkan bujur berupa jari-jari. Proyeksi kerucut diperoleh dengan memproyeksikan globe pada kerucut yang menyinggung atau memotong globe kemudian di buka, sehingga bentangnya ditentukan oleh sudut puncaknya. Proyeksi ini paling tepat untuk menggambar daerah daerah di lintang 45°. Proyeksi kerucut dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
·      Proyeksi kerucut normal atau standar
Jika garis singgung bidang kerucut pada bola bumi terletak pada suatu paralel (Paralel Standar).
·      Proyeksi Kerucut Transversal
Jika kedudukan sumbu kerucut terhadap sumbu bumi tegak lurus.
·      Proyeksi Kerucut Oblique (Miring)
Jika sumbu kerucut terhadap sumbu bumi terbentuk miring.

Proyeksi Peta Bidang Kerucut

c. Proyeksi Silinder
Proyeksi Silinder adalah suatu proyeksi permukaan bola bumi yang bidang proyeksinya berbentuk silinder dan menyinggung bola bumi. Apabila pada proyeksi ini bidang silinder menyinggung khatulistiwa, maka semua garis paralel merupakan garis horizontal dan semua garis meridian merupakan garis lurus vertikal. Penggunaan proyeksi silinder mempunyai beberapa keuntungan yaitu:
·      Dapat menggambarkan daerah yang luas.
·      Dapat menggambarkan daerah sekitar khatulistiwa.
·      Daerah kutub yang berupa titik digambarkan seperti garis lurus.
·      Makin mendekati kutub, makin luas wilayahnya.
Jadi keuntungan proyeksi ini yaitu cocok untuk menggambarkan daerah ekuator, karena ke arah kutub terjadi pemekaran garis lintang.

Proyeksi Peta Bidang Silimder

2. Menurut Jenis Unsur Yang Bebas (Distorsi)
·      Proyeksi conform, merupakan jenis proyeksi yang mempertahankan besarnya sudut
·      Proyeksi equidistant, merupakan jenis proyeksi yang mempertahankan besarnya panjang jarak
·  Proyeksi equivalent, merupakan jenis proyeksi yang mempertahankan besarnya luas suatu daerah pada bidang lengkung

C. Sistem Koordinat
Sistem koordinat adalah sistem yang mendefinisikan lokasi dalam serangkaian angka. Secara umum terdapat dua kelompok sistem koordinat, yaitu :

(1) sistem koordinat geografis
Sistem koordinat geografis (geographic coordinate systems, GCS) menggunakan permukaan tiga dimensi dari spheroid sebagai dasar penentuan koordinat. GCS menggunakan satuan sudut (angular unit) yang dinyatakan dalam longitude dan latitude yang dihitung dari titik tengah bumi ke suatu titik dipermukaan, GCS senng dinyatakan dalam satuan derajat maupun radian. Longtitude 0 (nol) adalah median yang melintasi Kota Greenwich, England, sedangkan latitude 0 (nol) adalah garis khatulistiwa

Sistem Koordinat Geografis (Geographis Coordinat Sysytem)

(2) sistem koordinat terproyeksi
Sistem koordinat terproyeksi (projected coordinate systems) tidak menggunakan bentuk tiga dimensi shpereoid, melainkan menggunakan dua dimensi bidang datar. Lokasi ditentukan oleh koordinat x dan y dalam suatu grid. Setiap lokasi memiliki nilai x dan y yang menunjukkan posisi relatif titik tersebut terhadap titik origin. Titik origin untuk setiap sistem koordinat berbeda-beda sehingga pengguna harus mengetahui titik origin sebelum menggunakan suatu sistem koordinat. Salah satu sistem koordinat terproyeksi yang paling banyak digunakan adalah Universal Transverse Mercator (UTM). UTM menggunakan proyeksi Transverse Mercator. UTM membagi bumi ke dalam 60 zona utara (N) dan 60 zona selatan (S). Setiap zona memiliki lebar enam derajat (60) ke arah longitude. Gambar dibawah memberikan ilustrasi bagaimana zona-zona dibagi pada sistem koordinat UTM.
Setiap zona mencangkup 6 derajat bujur (longitude) dan memiliki meridian tengah tersendiri. Sistem koordinat UTM menggunakan satuan unit meter. Setiap zona memiliki panjang x sebesar 500.000 meter dan panjang y sebesar 10.000.000 meter. Sistem UTM akan membagi bumi kedalam beberapa zona grid (kotak) dan posisinya akan selalu dapat diindikasikan melalui posisi timur (easting) dan utara (northing) pada setiap sel-sel grid ini.

Sistem Koordinat Terproyeksi (ProjectedCoordinat Sysytem)

Untuk Indonesia yang berada pada posisi kurang lebih berada pada 900BT – 1440BT dan 110LS – 60LU terbagi ke dalam 9 zona UTM yaitu zona 46 – 54. Adapun sebagai gambaran, bias lihat gambar dibawah ini :


Dari informasi diatas, sebagai contoh Provinsi Aceh berada di zona UTM 46N dan 47N,Provinsi DKI Jakarta berada di 48S, Provinsi Bali berada pada zona 50S. dengan mengetahui informasi zona UTM Indonesia diharapkan jika ingin merubah system koordinat ke UTM, kita mengetahui zona berapa wilayah yang akan kita ubah.


sekian tulisan mengenai Peta Berbasis GIS, semoga tulisan saya kali dapat membantu kawan-kawan yang masih bingung tentang Peta pada GIS, terimakasih atas kunjungan dan menyempatkan waktu untuk membaca tulisan ini. jika masih ada salah informasi dalam penulisan ini saya mohon berikan koreksi pada kolom komentar di bawah heee, maklum masih belajar juga heeeee 😀
TERIMAKASIH


Sumber Tulisan :
http://www.gispedia.com/2016/03/zona-universal-transverse-mercator-utm-indonesia.html
https://sagagisindonesia.wordpress.com/2016/09/15/3-8sistem-proyeksi-dan-sistem-koordinat/
http://www.majalahbatu.com/2016/08/sistem-koordinat-dalam-gis.html
https://yunitafauzia.wordpress.com/2012/09/21/pengertian-utm-universal-transverse-mercator/
https://id.wikipedia.org/wiki/Proyeksi_peta
http://www.ipsmudah.com/2017/05/3-syarat-syarat-peta-pengertian.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Peta

Jangan Lupa Baca Juga :